Tuesday, January 17, 2017

Surat Kesehatan dan Puskesmas

 puskesmas pusat kesehatan masyarakat
Pagi ini aku pergi ke puskesmas untuk membuat surat keterangan sehat. Sebenarnya, kemarin aku udah ke puskesmas untuk cek urine. Dan sebenarnya lagi, udah ada niatan buat ngurus surat kesehatannya kemarin biar sekalian. Cuman, keraguan mendatangiku karena setelah kutanyakan ke rekan kerja praktekku katanya tidak perlu surat kesehatan lagi. Ah, gak perlu menyesalinya. Toh, rencanaku kan besok menyetor surat kesehatannya sambil menunggu kedatangan Irfan hari ini.

Aku berangkat dari rumah pukul 08.00 pada saat cuaca sangat nanggung untuk gerimis. Di perempatan sebelum puskesmas, aku berbelok ke arah kanan dan mengambil lajur kanan (jangan diikutin ya hehe) karena adanya sekat antara lajur kanan dan lajur kiri. Lagi pula, kalau lewat putaran kapsul maka akan ada tambahan 2 menit untuk tiba di puskesmas. Aku parkirkan motor Scoopy-ku, lalu menuju ke meja registrasi dan mengambil nomor urut antrian.

Baru saja dibuka pada pukul 08.00, ruang tunggu antrean puskesmas tersebut sudah aja terisi sekitar tiga per empatnya. Aku duduk di sebelah mas berkumis tipis yang kira-kira udah dua hari lamanya terakhir ia cukur. Aku pun sekedar basa-basi menyapa dia yang ternyata juga lagi ngurus surat kesehatan. Dia rupanya sedang melamar kerja. Kemudian, ia sibuk tenggelam dalam Facebook-nya. Sembari sedikit mengintip, terlihat ia sedang mengomentari beberapa foto cewek-cewek. “Modus klasik,” pikirku membatin. Hey, jangan langsung percaya dengan asumsiku barusan! Karena itu bisa aja salah.

Sibuknya mas sebelah dengan aktivitasnya, membuat aku ngelakuin pengamatan terhadap orang-orang yang lalu-lalang di ruang tunggu antrean tersebut. Di kiriku, terdapat anak cowok yang memiliki tanda lahir yang unik. Tanda lahirnya di batang hidungnya! Dan itu menutupi sebagian besar batang hidungnya. Kalo kalian tau asisten raja di Benteng Takeshi yang memiliki hidung di warnai merah, nah seperti itu luasan tanda lahirnya!

Ada lagi ibu berlipstik merah merekah yang umurnya sekitar 40an duduk di depanku, ia membatalkan kunjungannya ke dokter gigi. Padahal saat itu nomer antreannya sedang dipanggil. Menurut informasi dari yang ia berikan ke ibu-ibu sebelahnya dengan sangat keras, ia aku memeriksakan giginya ke dokter gigi. Lalu perbincangan dilanjutkan dengan aksen khas daerah yang susah aku tangkap.

Sekitar 40 menit aku menunggu nomer antreanku dipanggil, dan aku maju ke meja pendaftaran untuk menyerahkan KTP dan selembar foto. Setelah itu, aku pindah ke ruang tunggu masuk ke poli umum. Aku bertemu kembali dengan mas yang duduk di sebelahku tadi menunggu untuk dipanggil masuk ke poli umum. Dia menyapa beberapa kenalannya sembari menunggu. Gak cuma satu dua orang, tetapi mungkin sekitar empat sampai lima orang.

Tiba saatnya giliran aku yang masuk ke ruangan. Berat badan dan tinggi badan diukur terlbih dahulu. Rupanya, aku menyadari kalo selama ini aku salah dalam mengukur tinggi badan. Seharusnya punggungku menyetih tembok, padahal biasanyanya aku menghadap sebaliknya. Ada kenaikan berat badan dan tinggi badanku. Lalu kemudian tensi darah diukur dan tes buta warna, prosesnya sangat cepat. Setelah itu, aku harus keluar ruangan menuju ke tata usaha yang berada di lantai dua untuk membayar biaya. Di sana aku bertemu dengan seorang ayah bersama anak perempuan pertamanya yang masih PAUD (ya, aku menanyakannya), sementara istri dan anak bungsunya ada di bawah. Selesai membayar, surat kesehatan versi cetaknya telah jadi. Aku harus kembali ke poli umum di bawah untuk mendapatkan tanda tangan dokter. Surat kesehatan sudah jadi!

Aku keluar ruangan poli umum, dan menemui teman SMA-ku Anggra yang menunggu di ruang tunggu antrean. Dia bersama seorang adik kelas SMA sedang mengurus surat sehat untuk kerja praktek juga. Aku sapa dia dan pamit bersalaman. Sedikit berbasa-basi nanti akan ditempatkan di departemen apa. Saat ku bilang akan ditempatkan di departemen maintenance, adik kelas langsung menyambut bahwa orang tuanya bekerja di departemen tersebut. Lalu, aku berkenalan dengan dia yang bernama Yusni. Aku berpamitan ke dua orang tersebut dan menuju parkiran.

No comments:

Post a Comment