Monday, March 28, 2016

Barbershop

barbershop tempat pangkas rambut
Siang tadi (masih) cerah. Aku yang baru saja menyelesaikan ujian mid semesterku di hari pertama itu mengecek schedule selanjutnya yang telah kusiapkan sedari pagi tadi. Ya, aku akhir-akhir ini belajar untuk melakukan planning kegiatan seharian di pagi hari. Dan untuk hari ini, kegiatan planning aku lakukan pada saat sedang khidmad-khidmatnya menemui panggilan alam di tempat pembuangan tinja. Tidak apa-apa, aku tidak harus menuliskan to-do-list ku hari ini di kertas yang biasa aku menuliskanya. Tiada kertas di toilet, ketukan hape pun jadi. Kembali ke kegiatan mengecek schedule tadi, setidaknya aku mempunyai 2 kegiatan yang harus aku selesaikan sebelum pukul 14.00 nanti. Yakni kegiatan tersebut ialah mencetak dan meminta tanda tangan dosen, lalu ke klinik untuk memintakan cap klinik tersebut.

Di akhir kunjungan singkatku ke klinik, aku perlu memutuskan kegiatan apakah yang aku lakukan selanjutnya. Sembari berjalan menuju motor di parkiran, terlintas di benakku untuk memangkas rambut yang aku kira cukup panjang ini. Biasanya, sebelum periode ujian, aku memiliki memotong rambut. Enth aku melakukannya untuk apa, yang jelas, ada perasaan yang melegakan setelah aku pergi ke salon untuk memangkasnya. Oke, aku putuskan setelah ini aku pergi ke barbershop untuk memangkas rambut.

Ini adalah kali ketigaku memangkas rambut di tempat ini. Aku suka dengan suguhan teh berasa barbershop yang disuguhkan di awal ketika kita baru menduduki kursi pemotongan rambut yang empuk itu. Kursi yang sangat nyaman, yang bisa diatur ketinggiannya dengan menggunakan pompa hidroli yang disetel secara manual dengan injakan kaki. Siang itu sepi di barbershop tersebut. Saat aku membuka pintu barbershop, tiada pelanggan lain selain aku. Mas-mas pemangkas rambut mempersilakan aku duduk di kursi nomer dua dari kiri. Terpampang tulisan “Otto” di cermin depan yang aku kira itu menunjukkan nama dari mas pemangkas.

Mas Otto berperawakan tidak tidak tinggi, memakai kacamata berbentuk hampir bulat, dan rambut yang dipotong pendek. Ia lalu datang membawakan teh apel yang dinginnya nanggung, dan menaruhnya di depan cermin. Dua kali aku datang ke barbershop itu, dan dua kali juga aku disuguhkan teh berasa cola. Namun, kali ketiga ini, teh yang disajikan berbeda rasanya. Kemudian Mas Otto menanyakan tipe rambut seperti apa yang saya inginkan. Aku bertanya balik, “Ada rekomendasi gak, mas?”. Mas Otto menjelaskan tipe potongan rambut yang kekinian dan kontemporer, juga menawarkan opsi untuk sekedar merapihkan potongan rambutku. Pada pemotongan rambut sebelum ini, aku memutuskan untuk menggunakan tipe potongan yang berbeda dengan tipe yang selalu aku pilih sebelumnya, tipe “Dirapikan saja, mas”. Tipe rambut yang cukup baru buat aku ialah yang di bagian samping lebih tipis, dan di bagian yang tengah dapat disisir secara klimis. Pernah, potongan baru aku tersebut dikomentari oleh teman sekostku mirip dengan potongan satpam. Okey.. Setidaknya, saat aku menanyakannya kepada teman cewek, aku mendapatkan jawaban normal.

Aku memutuskan, untuk merapihkannya saja. Tidak banyak aku mengajak ngobrol Mas Otto yang sedang asik memangkas rambutku. Aku tertarik dengan kata “Massage 25k” dari daftar harga yang terpampang di depan cermin. Aku perlu mengecek dompetku dahulu memastikan uang yang aku bawa cukup untuk membayar biaya potong dan massage nanti. Aku mengecek dompet sambil meraba-raba apakah ada uang di bagian belakang dompetku, tetapi aku ragu apakah lembaran yang aku raba ini uang 50 ribuan ataukan nota pembelian. Kusempatkan mengeluarkan dompet dari sisi kiriku keluar dari kain penutup dan masih kutemukan selemebar uang biru tersebut. Aku memutuskan untuk mencoba massage. Mungkin pertama kalinya..

Setelah pemotongan rambut dan pencukuran selesai, pindahlah aku ke kursi lain untuk pengeramasan rambut. Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai kursi tersebut karena tidak cukup ergonomis untuk dibaringi. Tidak ada bantalan yang menyangga leher sehingga pada saat pengeramasan leher cenderung berbaring pada plastik yang keras. Aku menikmati pengeramasannya, tetapi untuk bantalan leher itu sangatlah tidak nyaman. Ada 5 menit proses pengeramasan dilakukan, dan setelahnya aku protes ke Mas Otto mengenai kursi keramas yang tidak nyaman tersebut. Jawabannya tidak memuaskan aku. Aku berharap pihak manajemen dapat menggantikan kursi dengan kursi yang lebih nyaman.

Saat aku telah menduduki kursi pemangkasan rambut lagi, tak lupa aku sekali dua kali seruput teh yang sudah dingin itu. Aku memilih tambahan massage. Mula-mula, disemprotkan aerosol ke arah rambut terlebih dahulu. Aerosol itu disebut hair tonic, rupanya. Piajatan awal dilakukan dengan menekan dengan cukup kuat pada titik tengah dahi. Aku meminta penekanan yang lebih di titik tersebut. Kemudian, pijatan dilanjutkan ke bagian samping kepala, leher, punggung, dan pundak. Aku hampir tertidur dalam proses tersebut. Tak terasa 24 menit berlalu, Mas Otto menyudahi massage. Aku beranjak dari tempat duduk dan membayar di kasir.

Mungkin ini pengalaman pertamaku massage (dengan membayar). Aku rasa cukup worth it dengan harga segitu. Lagi pula aku baru saja ujian. Aku pulang ke kost dan ingin melanjutkan rileks dengan tidur siang. Tidur siang yang akan nyenyak.

No comments:

Post a Comment